By. Cindy _Za
Orang tuaku
memberiku nama Bintang
Athar Firdaus. Sebuah
nama indah penuh
harapan kebaikan. Teman-temanku memanggilku Athar.
Pada suatu
malam, aku terbaring di dalam kamar.
Usiaku baru menginjak 5 tahun. Aku letakkan kakiku ke atas menyentuh
dinding kamar. Mataku menatap langit-langit, termenung sendirian. Semua orang
sedang berkumpul di ruang tengah. Suara mengaji terdengar begitu
jelas. Dari dalam
kamar kudengar suara
deru mobil berhenti
di depan rumah. Aku beranjak, dari balik jendela
aku melihat dengan
jelas sebuah mobil
putih. Ada beberapa orang
yang langsung menghampiri mobil tersebut. Mataku
tajam menatap ke luar jendela. Tampak seorang perempuan
yang mendadak pingsan. Orang-orang langsung memapahnya masuk kerumah.
Dia adalah bibiku.
Bibi sangat shock karena
kakak satu-satunya yang sangat disayanginya telah meninggal. Malam semakin
larut. Dan, aku
masih terdiam didalam
kamar. Tak beranjak, mataku tak
mengeluarkan tangisan sedikitpun. Aku masih belum
mengerti. Malam itu
aku juga tak melihat Mama, aku tak tahu Mama ada
di mana, Mama mungkin sedang menidurkan Tiara, adikku yang baru berusia 1 tahun.
Aku beranjak menuju pintu, melihat orang-orang lalulalang. Tak ada seorang pun yang memperhatikanku. Keesokannya, aku melihat jenazah
Bapak sudah berada
dalam keranda. Para tetangga
dan saudara telah berkumpul di halaman rumah.
mereka bersiap membawa
Bapak ke masjid untuk
di sholati. Ada banyak rombongan yang ikut mensholati Bapak. Setelah
selesai di sholati, kembali rombongan bergerak pergi membawa
jenazah Bapak.
Aku ikut
bersama mereka berjalan menuju ke sebuah tempat. Ada beberapa tetangga
mendekatiku dan menemani langkah kecilku. Beberapa di antara mereka terlihat
baik kepadaku. Mereka aku kenali sebagai teman Bapak. Dan, di antara mereka ada
yang memegang tanganku, memegang kepalaku,
menuntunku dan berkata, "kasihan sekali, anak sekecil ini sudah
menjadi anak yatim...."
Kakiku terus melangkah mengikuti
orang-orang yang berjalan pelan, menerobos jalan kecil yang di penuhi
pepohonan. Hingga akhirnya orang-orang berhenti pada sebuah tempat. Di depannya ada
tanah seukuran 2x1 meter
yang sudah di gali. Dengan
perlahan dan hati-hati jenazah Bapak dikeluarkan dari keranda.
Semuanya aku
lihat dengan jelas.
Saat azan dan
doa berkumandang, tubuh
Bapak menghilang, ditimbun tanah,
terkubur di peristirahatannya yang terakhir.
Sekelilingku penuh dengan suara tangisan. Dan, aku hanya membisu terdiam tanpa suara. Ada bisikan kecil pelan terucap dalam hatiku.. . ..
Bapak telah pergi.. . ..
Mulai saat itu, akhirnya aku tahu cerita kehidupan yang pasti dialami oleh semua manusia. Cerita yang mampu memisahkan kita dengan orang yang sangat dekat dengan kita.
Seseorang yang kita sayangi dan menyayangi kita, bisa kapan saja pergi meninggalkan kita. Tak ada lagi senyumannya, juga pelukannya. Sebuah cerita yang mengakhiri cerita.
Cerita itu bernama kematian.
Beberapa
tahun setelah kejadian ini akhirnya aku menyadari, betapa berartinya kehilangan
seorang Bapak. Sesuatu yang juga sangat memberatkan Mama yang harus rela di tinggal belahan
jiwanya pada usia
yang masih tergolong muda, 38 tahun.
Sekarang beliaulah yang harus berperan sebagai kepala keluarga, di bantu
oleh kakak-kakakku yang belum ada
seorang pun yang
lulus sekolah. Mereka
pada usianya yang
masih sangat muda harus ikut merasakan
tanggung jawab untuk membantu Mama.
